Wednesday, 20 November 2024

Tiga Tahun Untuk Selamanya

Tiga tahun…

Senyummu masih rapi tersusun,
Dalam bingkai jiwa yang ku bangun.
Merengek… mengumpat memohon ampun.

Cinta kita mati sebelum mengalun,

Hidup utuh bak separuh,
Tak jua berhasil pemuda ku rengkuh…

Kau kira,
Waktu berlalu tak terhingga.
Berjalan berliku merangkai asa,
Lalu asa tercipta sia-sia…


Restu bak benang putus seorang penenun,
Tertutup uang, tradisi turun temurun..

Akulah si jelata sayang…
Dan kau, selalu hidup bergelimang dayang-dayang,

Cinta kita begitu nyata sayang, aku tahu.
Namun semua itu tak cukup sayang, tolong nahkodai perahu

Benarkah hanya cinta yang kita punya?
Karena kendalimu yang nihil itu membuatku semakin bertanya-tanya

Sayangku…
Sudah pupus harapan itu…
Kini hanya ada perempuan yang penuh pilu,
Antara berpegang erat pada akhir, atau di alam lain ‘kan bersatu

Sampai bertemu…

Monday, 4 November 2024

Jelata dan Sang Ratu

 

Tiga puluh enam purnama berlalu,
Cahaya menyiratkan jejak langkah yang telah jauh,
Jutaan langkah kecil dari kota hujan,
Maupun puluhan ribu langkah besar di negeri jiran,
Semua tertuju demi menemui sang Ratu.

Harum, sangit, semerbak bermacam bau...
Noda, jernih, noda, telah rata tersaru...
Dalam pakaian kebanggaan jelata yang jelas bukan hal baru,
Tuhan mendelik terbelalak...
Mungkin akhirnya Beliau muak?

Dalam langkah, Angin kuat dikirim Tuhan,
Setelan pakaian nan rapi?
Bukan! Ini kain lusuh terkebiri!
Terkejut? Hancur? tidak... ini justru kedamaian,
Jelata ini sudah bersahabat dengan derita sejak ia dalam kandungan.

Bagaimana dengan Sang Ratu?
Sangatlah nyaman pakaian sutra itu dikenakan tubuh...
Tertampaknya kain lusuh, risau jua dalam kalbu.
"Susah-sumpah-serapah, jangan harap kau masuk dalam trah!" 
Jelata mengangguk dan melanjutkan langkah.

Tiga puluh enam purnama sudah berlalu,
Jelata tetap melangkah dan menyeka peluh,
Di pikirannya berkecamuk rasa, asa, sia-sia,
Namun tak dihiraukannya itu semua,
Kain lusuh ini adalah harta tak terkira.


Sunday, 20 November 2022

Kawan Jiwa


Perlahan...
Jiwa teduhnya sangat menenangkan,
Menyelinap tak terbayangkan,
Seolah mengayun dan menjadikanku nyaman,
Apakah aku jatuh cinta pada seorang kawan?

Tunggu, jangan terburu...
Harus ku pastikan dahulu,
Takut - takut hatiku keliru,
Atau mungkin saja hanyalah angin lalu...
Tuhan, ini benar cinta ataukah hanya rasa ingin tahu?

Ketika semakin ku tahu, semakin rasa ini menggebu...
Sesaat ia bertamu, selamanya aku ingin bertemu...
Ah, sudah terlampau benarlah dirinya sesosok kawan jiwaku,
Karenanya, aku tak ingin semua berlalu...

Dengannya, ku dibersamai dan ditemani menyepi...
Dengannya pula, ku disembuhkan dari segala luka hati...
Apa mungkin pertemanan adalah kunci?
Bahwa sejauh apapun ku telah mencari,
Pada akhirnya akan bertemu lagi disini...

Tuhan, sepertinya memang rasa ini berbeda...
Aku memang benar jatuh cinta,
Dan jatuh cintaku kali ini sangatlah berbeda,
Tanpa prahara dan tanpa prasangka,
Mengalir anggun begitu saja...


Thursday, 21 April 2022

Api Kembar

Satu jiwa membelah dua
Satu berlari menjauh
Satu coba kembali merengkuh
Namun keduanya tak kunjung bersua

Jiwa satu berangan akan potensi
Akan hobi
Akan emosi diri sendiri

Sedangkan yang satu sudah lelah berlari
Sudah lelah dengan segala ambisi
Sudah lelah dan ingin bersama sebagian diri

"Tak ada titik temu! Sudah ku bilang, kau berlarilah sendiri! Aku pun juga. Pergi! Sana pergi! Tak 'kan ada riak air bertemu."

Semakin erat genggaman terikat
Semakin tercekik sakit melaknat

"Tidak. Aku akan berlari di sampingmu. Tak akan ku biarkan kau berlari sendiri. Air? Apa kau butuh air? Sebentar ya aku akan menyair."

Jika harus mengais, menyembah, dan menyair demi segelas air
Semua akan dilakukan demi bersatu diakhir

Byurrr

Tumpah ruah air menghambur
Tumpah pula tangis melantur

"Telah teramat lelah ku kumpulkan. Telah berhasil segelas air dalam genggaman. Nyatanya tetap kau tolak dan kau tumpahkan!"

"Salahmu. Sudah ku bilang tak ada titik temu. Aku belum utuh. Kau pun begitu. Saat ini kita belum bisa bersatu."

"Bodoh, kita memang tak akan utuh sendirian. Kau bagian diriku dan aku bagian dirimu. Sampai mentari melahap bulan pun, kita tak akan utuh jika tak bersatu."

Api kembar yang terlahir satu berkecamuk
Nyatanya sekarang telah berubah bentuk

"Baiklah. Jika itu maumu, aku pamit. Tak akan lagi ku buang energi untuk merakit. Atau lebih naas, membuang waktu demi rasa sakit."

Hening...

Dalam hening dan pening yang membimbing
Satu jiwa terbakar emosi
Satu jiwa terbakar delusi
Dan satu jiwa terbakar ingin cepat pergi

Sedangkan jiwa satunya beranjak undur diri
Jiwa satunya beranjak memadamkan api
Dan jiwa satunya beranjak ingin cepat mati

Tuesday, 7 September 2021

Sudah ? Belum

Sudah ?
Sudah kuatkah pijak ku melangkah ?
Sudah ?
Sudah kokohkah aku mengarah ?

Belum.
Belum sempat terikat mesra bibirmu ku kulum
Belum.
Belum jua kering genggamanku kau cium

Sudah ?
Sudah di ambang bataskah ku 'kan menyerah ?
Sudah ?
Sudah sedemikian ini kah kau teramat pasrah ?

Belum.
Belum sempat semuanya sungguh belum.
Belum.
Belum tercipta kita berdua di bingkai album.