Tiga tahun…
Senyummu masih rapi tersusun,
Dalam bingkai jiwa yang ku bangun.
Merengek… mengumpat memohon ampun.
Cinta kita mati sebelum mengalun,
Hidup utuh bak separuh,
Tak jua berhasil pemuda ku rengkuh…
Kau kira,
Waktu berlalu tak terhingga.
Berjalan berliku merangkai asa,
Lalu asa tercipta sia-sia…
Restu bak benang putus seorang penenun,
Tertutup uang, tradisi turun temurun..
Akulah si jelata sayang…
Dan kau, selalu hidup bergelimang dayang-dayang,
Cinta kita begitu nyata sayang, aku tahu.
Namun semua itu tak cukup sayang, tolong nahkodai perahu
Benarkah hanya cinta yang kita punya?
Karena kendalimu yang nihil itu membuatku semakin bertanya-tanya
Sayangku…
Sudah pupus harapan itu…
Kini hanya ada perempuan yang penuh pilu,
Antara berpegang erat pada akhir, atau di alam lain ‘kan bersatu
Sampai bertemu…